Seharian di rumah, ternyata membuat badan semakin capek. Meskipun sejak pagi sudah "ngedep" laptop, tapi tetap saja, badan tidak bisa diajak kompromi. Mungkin sudah jadi kebiasaan setiap hari harus menginjak kopling, rem dan gas. Kebetulan suami ngajak jalan-jalan. Tapi.......... setelah dia kasih kuliah. Ok deh.
Sesuai dengan keputusan, maka saya menunggu suami di toko buku. Nah, kali ini kupilih Toga Mas, daerah Pucang. Alasannya adalah : 1. Dekat dengan kampus suami; 2. Ada de Safa cafe, jadi ada kesempatan buat ngopi sebentar sekalian nunggu suami en baca buku. Cihuyyy............
Sesuai dengan keputusan, maka saya menunggu suami di toko buku. Nah, kali ini kupilih Toga Mas, daerah Pucang. Alasannya adalah : 1. Dekat dengan kampus suami; 2. Ada de Safa cafe, jadi ada kesempatan buat ngopi sebentar sekalian nunggu suami en baca buku. Cihuyyy............
Kulangkah kakiku masuk ke toko buku. Tempat pertama yang kutuju adalah........ tentu saja buku Psikologi dan Pendidikan. Ada beberapa buku yang sudah kuincar sebelumnya tapi belum ada niatan untuk membelinya. Misalnya : Psikologi Abnormal dan Psikologi Umum. Hm.... butuh budget yang agak lumayan dan situasi "harus" beli. He....he....
Merasa waktu masih panjang, coba-coba masuk ke tempat buku yang lain. Aha..... nemu rak buku novel dan sastra. Tempat yang sudah terlalu lama tidak kukunjungi. Mungkin karena sehari-hari sudah terbelenggu oleh situasi konkrit, tidak ada pengkhayalan. Tidak ada salahnya melihat beberapa buku, atau membaca komik-komik. Mungkin bisa membangkitkan nuansa khayal dalam otakku yang sudah terlalu lama kering ide.

Setelah timbang sana dan timbang sini, kuputuskan untuk memilih ketiga buku di atas.
Buku pertama. Coelho, Paulo. 2007. By The River Piedra I Sit Down And Wept. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Buku kedua. Coelho, Paulo. 2009. The Alchemist. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Buku ketiga. Hubbard, Susan. 2009. The Society of S. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Ada beberapa alasan mengapa memilih ketiga buku tersebut, mungkin akan lebih baik jika melihat alasan dari tiap buku.
Buku pertama. 1) Tertarik melihat sampul muka, seorang gadis yang sedang terduduk dan melipat kepalanya di antara kedua kakinya. Selintas saja, dapat kupahami bahwa sang gadis sedang bersedih. Tipe-tipe novel kesukaanku. 2) Melihat judulnya. By The River Piedra I Sit Down And Wept. Artinya, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis. 3) Membaca ringkasan ceritanya. Tertulis "Cinta adalah perangkap. Ketiga ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya". 4) Bukunya tinggal satu. Walah harus dibeli tuh.
Buku kedua. 1) Nama pengarang dan judul buku. Sudah lama, temanku menyarankan untuk membaca buku ini. Nah hari ini terlaksana. Terima kasih, pak (maaf, namanya tidak bisa dibuat di blog ini, qiqiqi.....). 2. Membaca ringkasan ceritanya. Tertulis "Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?" tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu. "Sebab, dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada."
Buku ketiga. 1) Penasaran. Judulnya hanya berbunyi "The Society of S". Apa yang dimaksud dengan "S". Kucari-cari di ringkasan, ternyata tidak menemukan jawabannya. 2) Setelah membaca beberapa paragraf di dalam buku, semakin penasaran untuk mencari jawabannya. Maka saya putuskan untuk membelinya. Haaaaahhhhhh..... akhirnya.............
Merasa waktu masih panjang, coba-coba masuk ke tempat buku yang lain. Aha..... nemu rak buku novel dan sastra. Tempat yang sudah terlalu lama tidak kukunjungi. Mungkin karena sehari-hari sudah terbelenggu oleh situasi konkrit, tidak ada pengkhayalan. Tidak ada salahnya melihat beberapa buku, atau membaca komik-komik. Mungkin bisa membangkitkan nuansa khayal dalam otakku yang sudah terlalu lama kering ide.

Setelah timbang sana dan timbang sini, kuputuskan untuk memilih ketiga buku di atas.
Buku pertama. Coelho, Paulo. 2007. By The River Piedra I Sit Down And Wept. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Buku kedua. Coelho, Paulo. 2009. The Alchemist. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Buku ketiga. Hubbard, Susan. 2009. The Society of S. Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Ada beberapa alasan mengapa memilih ketiga buku tersebut, mungkin akan lebih baik jika melihat alasan dari tiap buku.
Buku pertama. 1) Tertarik melihat sampul muka, seorang gadis yang sedang terduduk dan melipat kepalanya di antara kedua kakinya. Selintas saja, dapat kupahami bahwa sang gadis sedang bersedih. Tipe-tipe novel kesukaanku. 2) Melihat judulnya. By The River Piedra I Sit Down And Wept. Artinya, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis. 3) Membaca ringkasan ceritanya. Tertulis "Cinta adalah perangkap. Ketiga ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya". 4) Bukunya tinggal satu. Walah harus dibeli tuh.
Buku kedua. 1) Nama pengarang dan judul buku. Sudah lama, temanku menyarankan untuk membaca buku ini. Nah hari ini terlaksana. Terima kasih, pak (maaf, namanya tidak bisa dibuat di blog ini, qiqiqi.....). 2. Membaca ringkasan ceritanya. Tertulis "Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?" tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu. "Sebab, dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada."
Buku ketiga. 1) Penasaran. Judulnya hanya berbunyi "The Society of S". Apa yang dimaksud dengan "S". Kucari-cari di ringkasan, ternyata tidak menemukan jawabannya. 2) Setelah membaca beberapa paragraf di dalam buku, semakin penasaran untuk mencari jawabannya. Maka saya putuskan untuk membelinya. Haaaaahhhhhh..... akhirnya.............
Ternyata waktuku masih banyak, masih 1 jam lagi untuk dijemput suami. Kuputuskan untuk ngopi di de Safa, sambil membaca salah satu buku yang baru beli. Urut dari atas ke bawah, ke atas lagi ke bawah lagi, ke belakang balik ke depan. Hm..... benar-benar pilihan yang sulit untuk segelas coffee. Dengan sedikit nekat, kupilih Ice Amsterdam Cappuchino. Hanya bermodal tulisan Cappuchino aja kumenjatuhkan pilihan. He...he... sekali-sekali memang harus berani mencoba. Jika nanti tidak sesuai dengan selera, maka tidak perlu mengulanginya lagi.
Sambil menunggu pesanan ku coba untuk konsentrasi dengan novel pertama. Kubaca resensi novel, yang ada di halaman belakang.
"Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya".
Begitulah yang semula dipercaya Pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu kembali dengan kekasihnya setelah sebelas tahun berpisah? Waktu menjadikan Pilar wanita yang tegar dan mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama. Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi Sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan.
Terselip perasaan "tersindir". Kami bertemu setelah beberapa tahun terpisah. Muncul perasaan yang tidak pernah terkunci, tetapi perasaan yang tersambut. Aku tidak pernah mengunci perasaan, tapi aku berusaha menerima keadaan bahwa tidak ada pertautan diantara kami. Waktu yang ada memang berisi dengan semesta rasa, tetapi lenyap oleh gelombang tsunami. Hmmm..... sudahlah, itu cerita lama. Sebaiknya disimpan sebagai kenangan.
Sambil menunggu pesanan ku coba untuk konsentrasi dengan novel pertama. Kubaca resensi novel, yang ada di halaman belakang.
"Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya".
Begitulah yang semula dipercaya Pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu kembali dengan kekasihnya setelah sebelas tahun berpisah? Waktu menjadikan Pilar wanita yang tegar dan mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama. Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi Sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan.
Terselip perasaan "tersindir". Kami bertemu setelah beberapa tahun terpisah. Muncul perasaan yang tidak pernah terkunci, tetapi perasaan yang tersambut. Aku tidak pernah mengunci perasaan, tapi aku berusaha menerima keadaan bahwa tidak ada pertautan diantara kami. Waktu yang ada memang berisi dengan semesta rasa, tetapi lenyap oleh gelombang tsunami. Hmmm..... sudahlah, itu cerita lama. Sebaiknya disimpan sebagai kenangan.
Amsterdam Cappuchino belum datang. Kulanjutkan untuk membaca lembar demi lembar halaman novel. Pertama...kedua... sampai ke 17. Tratata........kopi sudah datang. Jadi........... reading time and enjoying the coffee.


No comments:
Post a Comment